[Siaran Pers] Terkait dengan Kematian Jonghyun SHINee

Untuk segera disebarluaskan

Dear rekan-rekan sekalian,

Terkait dengan kematian Jonghyun SHINee, serta kemungkinan depresi sebagai faktor risiko utama bunuh diri menjadi penyakit dengan beban tertinggi kedua secara global di tahun 2020, kami dari Into The Light Indonesia menyarankan:

Kepada para fans SHINee (Shawol) yang terguncang dengan kabar kematian, agar tetap bersatu sebagai bagian dari komunitas dan mempedulikan kondisi satu sama lain.

Kematian selebritis terkait bunuh diri dapat mengguncang secara psikologis dan tersebarnya metode bunuh diri berpotensi untuk ditiru bagi Shawol yang terikat secara emosional dan sudah memiliki kecenderungan depresif dan bunuh diri.

Jika Anda memiliki pemikiran bunuh diri, jangan ragu untuk segera hubungi psikolog dan psikiater.

Shawol juga disarankan untuk berhati-hati, dengan tidak menyebarluaskan sumber berita yang belum teruji kebenarannya (atau berpotensi hoax), terutama yang bersifat mendramatisir kematian bunuh diri Jonghyun secara berlebihan. Hal ini penting, agar tidak memicu pemikiran depresif dan kehendak bunuh diri dari sesama Shawol yang depresif.

Kepada masyarakat luas, terutama keluarga dan teman dekat dari fans SHINee atau Shawol, untuk menghindari perilaku menstigma, merundung (bullying), menghakimi atau menilai negatif kematian bunuh diri dari idola mereka.

Setiap kematian bunuh diri dari selebritis atau idola mereka dapat mengguncang para fansnya, tidak peduli apapun persepsi dan reaksi kita terhadap kematian idola mereka.

Penilaian negatif yang diutarakan mengenai kematian bunuh diri juga berpotensi untuk menghambat perilaku pencarian bantuan dari orang yang kecenderungan depresi dan bunuh diri di sekitar Anda, terlepas apakah mereka bagian dari Shawol atau bukan.

Ada baiknya untuk kita terus bersama saling memperhatikan kondisi satu sama lain, belajar berempati dan mendengarkan dalam kondisi ini.

Jika Anda memperhatikan adanya perubahan perilaku seperti menjadi murung, menarik diri, membicarakan kematian, serta perasaan tidak ada harapan dari rekan fans SHINee/Shawol, harap segera dianjurkan untuk hubungi profesional ahli psikolog/psikiater terdekat.

Kepada media massa, kami mengharapkan partisipasinya dalam mencegah bunuh diri yang lebih meluas, dengan meliput pemberitaan bunuh diri Jonghyun dilengkapi dengan informasi bahwa:
a. bunuh diri disebabkan oleh faktor biologis, psikologis dan sosial yang kompleks;
b. bunuh diri dapat dicegah;
c. data mengenai depresi dan bunuh diri di kalangan anak muda, tanpa mendramatisir kasusnya.

Beberapa informasi dan publikasi ilmiah mengenai bunuh diri dapat diakses melalui tautan berikut ini:

Mental Health Status of Adolescents in South-East Asia: Evidence for Action

WHO World Report on Suicide Prevention (2014)

Suicidology.org

International Association for Suicide Prevention

Kenali juga informasi mengenai apa yang perlu dilakukan saat ada kawan yang hendak bunuh diri.

Kami berharap kontribusi dan partisipasi bersama kita semua untuk mencegah bunuh diri, karena setiap nyawa sungguh berharga. Terima kasih.

19 Desember 2017,

 

Benny Prawira Siauw
Kepala Koordinator Into The Light Indonesia

Sumber gambar: jonghyun.smtown.com

Advertisements

Surat dari Kami 2017: “Luangkan Satu Menit, Mengubah Satu Kehidupan”

Berdasarkan laporan dari WHO pada 2012, angka kematian bunuh diri di Indonesia mencapai 9.105 nyawa. Tahun ini, WHO kembali merilis publikasi terbaru yang menyatakan setidaknya 4% dari remaja berumur 13-17 tahun telah mencoba bunuh diri minimal satu kali dalam setahun terakhir. Satu hal yang perlu kita sadari bersama, bahwa angka ini bukan sekedar angka biasa yang kita baca. Angka ini tentang nyawa dan kehidupan yang bertautan dengan kehidupan orang di sekitar mereka.

Jauh sebelumnya sejak tahun 2001, WHO telah memprediksi bahwa depresi akan menjadi penyebab beban penyakit kedua tertinggi di seluruh dunia pada tahun 2020. Depresi, seperti yang selama ini kita ketahui, adalah faktor risiko terbesar untuk perilaku bunuh diri. Depresi bagaikan kegelapan yang menyelimuti hati individu, stigma bagaikan kegelapan yang menutupi mata kita atas individu yang rentan ini. Keduanya membentuk jalan menuju kematian bunuh diri bagi individu yang tidak terdengar.

Di sisi lain, Indonesia diprediksi akan mendapatkan bonus demografi, mulai tahun 2020 hingga mencapai puncaknya pada tahun 2030. Jika kita semua tidak mencegah lebih lanjut potensi bahaya dari depresi dan bunuh diri, maka dikhawatirkan bonus demografi kita terancam menjadi bagian dari beban demografi. Semua angka yang tertulis berpotensi melonjak dan menimbulkan permasalahan yang lebih nyata lagi di masyarakat kita. Kita akan kehilangan banyak sumber daya manusia di usia produktif jika kita tidak mulai bertindak.

Sepanjang tahun 2017, kita semua telah dikejutkan dengan gelombang pemberitaan kematian bunuh diri yang terus menerus terjadi. Bagi kami, ini adalah pertanda krisis kesehatan jiwa dan bunuh diri sudah dimulai. Gelombang kasus kematian bunuh diri ini memberikan kesempatan kita untuk merefleksikan diri.

Dari setiap kasus yang muncul ke permukaan, kita dapat menyadari bahwa ada kisah-kisah yang selama ini barangkali tidak pernah kita dengar. Barangkali kisah-kisah serupa ada di sekitar kita, di antara orang yang kita sayangi namun mereka terlalu malu untuk membicarakannya. Di detik-detik seseorang berpikir hendak bunuh diri, rasa sakit menjadi begitu luar biasa. Namun karena stigma, kita jarang mendengar teriakan mereka, kita menjadi enggan dan bahkan berpotensi menyalahkan mereka. Sekarang, kita harus menyadari bahwa kita hanya memiliki sedikit waktu untuk belajar mendengar.

Tema Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia untuk 10 September 2017 ini adalah “Luangkan Satu Menit, Mengubah Satu Kehidupan“. Saya, Anda, kita, dan mereka dapat berpartisipasi untuk mendengar satu sama lain, sehingga krisis bunuh diri ini dapat ditanggulangi dengan baik. Bersama, kita dapat saling membantu untuk meringankan beban dan menyelamatkan nyawa.

Salah satu tantangan pertama sebelum kita dapat berkontribusi dalam mencegah bunuh diri adalah belajar untuk mendengar. Seringkali, kita semua terlampau sibuk dengan asumsi, nilai pribadi yang diajarkan sejak kecil, dan penghakiman di kepala kita. Bagaimana mungkin kita punya ruang dan waktu untuk mendengar dan memahami kondisi orang lain, jika kita terlampau sibuk dengan pemikiran dan perasaan negatif di dalam kepala kita sendiri?

Mari kita bersama menyisihkan sedikit waktu, sumbangkan sedikit tenaga, tahan semua penghakiman dan asumsi pribadi tentang orang yang hendak bunuh diri. Dengan demikian, kita dapat perlahan-lahan belajar untuk hadir, mendengar dan menyimak setiap kisah yang ada.

Ruang untuk mendengarkan dan membicarakan permasalahan bunuh diri menjadi sangat penting untuk terus dibangun. Wacana mengenai pencegahan bunuh diri tidak hanya menjadi milik psikolog, psikiater, perawat jiwa, atau tenaga professional kesehatan jiwa. Wacana mengenai pencegahan bunuh diri sudah menyebar dan harus terus menjadi perhatian dari semua orang di berbagai sektor. Adanya partisipasi aktif dari kita semua dapat menumbuhkan harapan untuk kondisi yang lebih baik, bukan hanya bagi individu yang rentan tapi juga kesehatan jiwa masyarakat secara umum.

Krisis kesehatan jiwa dan bunuh diri ini dapat kita lalui jika kita mau bersatu dan bergerak bersama. Harapan pernah ada, karena mereka yang putus asa merasa didengar. Harapan masih ada, jika kita terus belajar untuk mendengar. Harapan akan selalu ada, jika semua orang mau meluangkan satu menit untuk mengubah satu kehidupan. Sekarang, adalah saatnya kita mengembangkan potensi kita sebagai makhluk sosial dengan belajar untuk mendengar dan menyimak kehidupan sesama.

Karena setiap nyawa sangat berharga, mari kita mulai hapus stigma, peduli sesama dan sayangi jiwa!

Dengan cahaya dan cinta untuk Anda,
8 September 2017

Kepala Koordinator Into The Light Indonesia
Benny Prawira

Rangkaian Acara untuk Menyambut Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia

Memperingati Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia yang jatuh pada 10 September setiap tahunnya, Into The Light Indonesia mengadakan dua kegiatan yang bisa Anda ikuti secara gratis dan terbuka untuk umum.

21056206_1179660862167573_5026941561017776480_o

Kita semua bisa menjadi penolong bagi rekan, kerabat, ataupun orang-orang di sekitar kita yang merasa depresi, putus asa, hingga memiliki pemikiran atau keinginan bunuh diri.

Into The Light Indonesia bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Filsafat dan Theologi Jakarta mengadakan rangkaian seminar bertema “Luangkan Satu Menit, Mengubah Satu Kehidupan”.

Seminar ini dibagi dalam empat sesi berbeda, membahas mengenai bunuh diri dalam beragam sudut pandang, serta memberikan cara-cara yang tepat dalam mendengarkan dan menanggapi orang-orang yang berada dalam keputusasaan hingga menyebabkan keingian bunuh diri.

Waktu:
Minggu, 10 September 2017
12.30 – 17.15 WIB

Lokasi:
Ruang Aula, Lantai 5
Kampus Sekolah Tinggi Filsafat dan Theologi Jakarta
Jl. Proklamasi No. 27
Menteng – Jakarta Pusat

Acara:
Sesi 1: “Masalah Kesejahteraan Sosial, Kesehatan Mental, dan Faktor Risiko Bunuh Diri”
Pembicara: Erna Dinata, Ph. D – Pengajar Kesejahteraan Sosial FISIP UI

Sesi 2: “Peran Komunitas Agama dalam Pencegahan Bunuh Diri”
Pembicara: Pdt. Drs. Stephen Suleeman, MA, Th, Th, M. – Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, STFT Jakarta

Sesi 3: “Tips Menjadi Pendengar yang Baik”
Pembicara: Eka Oktavia B., M.Psi, Psikolog – Psikolog Klinis Dewasa, Task Force Crisis Intervention Into The Light Indonesia

Sesi 4 : “Testimoni dari Penyintas Percobaan Bunuh Diri”
Pembicara: Listiyani Noviyanthi – Penyintas percobaan bunuh diri

Untuk pendaftaran dan informasi dari seminar ini, hubungi Lisi (081387023378) atau Rofai (085773418843).

21167834_1180862478714078_954392374220990172_o

Padamkan lampumu,
nyalakan lilin.
Bawalah terangmu
dalam kegelapan.
Sinarilah kehidupanmu
dengan harapan.
Luangkanlah satu menitmu
mengubah kehidupan.

Di hari yang sama, Into the Light Indonesia juga bekerjasama dengan komunitas Poetry Unmasked, Malam Puisi, dan Waktu Jeda menghadirkan acara “Light a Candle“.

“Light a Candle” adalah sebuah acara refleksi bersama yang menampilkan pembacaan puisi dari Poetry Unmasked, Malam Puisi, dan Waktu Jeda. Acara ini juga diiringi dengan penyalaan lilin bersama.

Waktu dan Tempat:
Minggu, 10 September 2017
18.00 – 21.00 WIB

Tempat:
Sanggar Prathivi
Jl. Pasar Baru Selatan No. 23
Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat

Acara gratis, namun tempat terbatas!
Untuk reservasi, silakan hubungi Jasmine (0853-11899-889) melalui WhatsApp.

Siaran Pers – Lingkar Studi Suicidologi: Bagaimana Peranan Agama Dalam Bunuh Diri?

Siaran Pers
Untuk disiarkan segera

Lingkar Studi Suicidologi: Bagaimana Peranan Agama Dalam Bunuh Diri?

Digital Innovation Lounge Depok – 29 Juli 2017

Jakarta (28/07) – Data dari International Association of Suicide Prevention menunjukkan bahwa setidaknya 800 ribu orang per tahun di seluruh dunia meninggal karena bunuh diri. Ini berarti setiap 40 detik, terdapat 1 nyawa hilang karena bunuh diri. Lebih jauh lagi, dari setiap 1 orang yang bunuh diri, terdapat 25 orang yang melakukan percobaan bunuh diri. Pada tahun 2012 diperkirakan setidaknya ada 9.103 kematian bunuh diri di Indonesia (WHO, 2014). Dengan demikian, terdapat setidaknya 227.625 orang yang pernah mencoba bunuh diri.

Di Indonesia, pemikiran atau tindakan seseorang yang melakukan bunuh diri banyak dihubungkan dengan kurangnya iman atau kedekatan seseorang dengan agama mereka. Melalui diskusi bulanan Lingkar Studi Suicidologi, Steven Cokro, S.Psi dari Into The Light Indonesia akan membahas peran agama dalam pencegahan bunuh diri. Apakah benar agama dapat melindungi seseorang dari bunuh diri? Atau mungkinkah agama justru dapat menjadi bumerang yang mendorong seseorang melakukan tindakan bunuh diri?

Berdasarkan kajian yang dilakukan Into The Light Indonesia, dapat disimpulkan bahwa afiliasi agama tidak berpengaruh terhadap pemikiran bunuh diri seseorang, tetapi dapat melindungi dari tindakan percobaan bunuh diri. Hal ini tergantung pada persepsi individu terhadap agama yang dianutnya. Mereka yang memiliki persepsi positif terhadap agama terbukti memiliki pemikiran bunuh diri yang lebih rendah sehingga dapat terlindungi dari tindakan percobaan bunuh diri. Namun ketika seseorang memiliki hubungan atau persepsi yang buruk terhadap agama maka hal ini justru dapat membuat seseorang melakukan bunuh diri. Ajaran suatu agama atau kepercayaan yang melarang umatnya untuk bunuh diri dapat mejadi faktor pelindung namun juga dapat menjadi bumerang saat seseorang menganggap agama tidak lagi mampu memberikan jalan keluar bagi permasalahan-permasalahan yang dihadapinya.

Dalam diskusi ini Steven juga akan membahas pengaruh budaya terhadap kemampuan agama mencegah tindakan bunuh diri. Kemampuan protektif dari agama akan berbeda-beda tergantung budaya di tempat agama atau kepercayaan itu berada. Jurnal studi tahun 2016 oleh Lawrence Oquendo dan Stanley mengenai kaitan resiko bunuh diri dan agama menyebut ketika seseorang menganut agama atau kepercayaan minoritas mengalami diskriminasi karena agama yang dianutnya, maka ini dapat menjadi faktor resiko kerentanan bunuh diri yang tinggi pada orang tersebut.

Tentang Into The Light Indonesia

Into The Light Indonesia adalah komunitas pencegahan bunuh diri yang digerakkan oleh orang muda lintas identitas dengan pendekatan berbasis bukti ilmiah dan hak asasi manusia. Into The Light memberikan pelayanan dalam bentuk edukasi, kampanye, penelitian, dan kerja sama dengan organisasi nasional dan internasional untuk kesehatan jiwa dan pencegahan bunuh diri. Kegiatan yang rutin dilakukan juga mencakup seminar, pelatihan, diskusi, dan kemitraan bersama organisasi kesehatan jiwa.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan kontak:
Malik Abdul: +62 899-5085-058
Surel: intothelight.email@gmail.com
Facebook: IntoTheLightID
Twitter: @IntoTheLightID
Blog: https://intothelightid.wordpress.com

Into The Light di “Selamat Pagi Indonesia” Metro TV – 24 Juli 2017

Pada Senin, 24 Juli 2017, Benny Prawira, pendiri dari Into The Light diundang oleh redaksi Metro TV dalam program “Selamat Pagi Indonesia”, membahas mengenai kasus bunuh diri di kalangan selebriti, serta bagaimana mengenal dan mencegah tindakan bunuh diri.

Deretan Kasus Bunuh Diri Selebriti

Mengenal dan Mencegah Tindakan Bunuh Diri

Sumber: metrotvnews.com