Dampak dari Melihat Konten Bunuh Diri di Media Sosial

Dalam beberapa bulan terakhir kita menemukan kasus orang yang bunuh diri dan terekam di media sosial, lalu akhirnya tersebar dan menjadi viral.

Sebelum kita menyaksikan dan menyebarkan konten tersebut kepada teman dan keluarga Anda, pahami terlebih dahulu bahwa menyebarkan konten yang eksplisit (termasuk adegan orang yang bunuh diri secara eksplisit) memiliki dampak negatif kepada mereka yang melihat konten tersebut.


Mereka yang menyaksikan konten, dalam kondisi kejiwaan yang sehat maupun tidak, rentan mengalami trauma sekunder karena menyaksikan adegan yang terlalu eksplisit. Trauma sekunder yang berulang-ulang dapat menyebabkan orang yang semula sehat jiwa, mulai mengalami pemikiran untuk bunuh diri, meningkatkan stres dan depresi, atau efek samping lainnya. Trauma sekunder ini juga dapat menyerang diri kita sendiri yang menontonnya.

Trauma sekunder juga tidak hanya dapat terjadi dengan adegan bunuh diri, namun juga foto atau video eksplisit lainnya, seperti adegan kekerasan, peristiwa terorisme, atau orang yang tubuhnya terpotong-potong atau terluka hebat karena kecelakaan atau peristiwa tertentu.

Penyebaran konten juga dapat memicu bunuh diri tiruan (copycat suicide) atau dikenal pula dengan efek Werther. Informasi bunuh diri yang terlalu mendetail seperti ciri-ciri orang, asumsi penyebab, dan metode yang jelas, dapat mendorong orang yang sedang depresi, memiliki masalah pribadi, atau memiliki pemikiran bunuh diri, untuk ikut melakukan bunuh diri.

Hal ini menjelaskan mengapa setelah kasus orang tertentu yang bunuh diri, juga sering diikuti dengan orang lain yang bunuh diri dengan cara yang mirip. Tentu kita berharap agar jumlah orang yang bunuh diri tidak bertambah, bukan?

Orang-orang yang kenal dekat dengan orang yang bunuh diri bisa saja terganggu kenyamanannya. Hal ini dapat terjadi karena beragam penyebab, seperti karena munculnya komentar yang tidak sopan di media massa.

Dalam beberapa kasus, orang-orang yang ditinggalkan juga bisa mendapatkan stigma tambahan ketika informasi pribadi dari orang yang bunuh diri juga disebar di media massa atau media sosial. Stigma tersebut bisa berupa gosip, tuduhan, fitnah, atau hinaan verbal atau penolakan/protes dari masyarakat sekitar, termasuk ditolaknya jenazah untuk disemayamkan atau dimakamkan sesuai dengan agama yang dianut orang yang bunuh diri.

Padahal, orang yang ditinggalkan karena keluarga atau kerabatnya bunuh diri (disebut sebagai “penyintas bunuh diri”) seharusnya diberi dukungan moral yang tepat, karena mereka masuk dalam kelompok yang rentan mengalami depresi, gangguan jiwa, atau keinginan bunuh diri. Hormatilah mereka yang sedang berduka karena mereka kehilangan orang yang mereka kasihi.

Selain itu, orang dengan kecenderungan bunuh diri dan depresi yang butuh pertolongan dapat membaca komentar negatif dari video bunuh diri. Mereka akan menjadi enggan mencari bantuan karena takut terkena stigma dan penghakiman dari orang banyak.

Padahal, pemberitaan bunuh diri harusnya menjadi momentum untuk mengundang orang-orang yang memiliki pemikiran bunuh diri atau depresi untuk mencari pertolongan kepada orang terdekat atau menghubungi tenaga profesional kesehatan jiwa.


Mari saatnya kita meningkatkan literasi dan etika dalam menggunakan media sosial, dengan lebih berhati-hati dalam menyebarkan konten yang kita terima.

Apa yang harus kita lakukan jika kita menemukan konten bunuh diri di media sosial?

Segera laporkan konten tersebut untuk dihapus.

Hentikan penyebaran informasi terkait orang yang bunuh diri. Izinkan keluarga yang ditinggalkan untuk berduka, tanpa harus dihantui stigma.

Hentikan penyebaran foto/video yang dapat menimbulkan kehendak bunuh diri pada orang depresif. Jangan sebarkan jika kita menerimanya, dan ingatkan teman-teman kita di media sosial untuk berhati-hati saat menerima foto/video tersebut.

Tahan segala macam komentar negatif dan asumsi mengenai kasus bunuh diri tersebut. Komentar dan asumsi negatif di media sosial yang dibaca oleh orang dengan kecenderungan bunuh diri dan depresi akan membuat mereka enggan mencari bantuan.

Siaran Pers – Lingkar Studi Suicidologi: Bagaimana Peranan Agama Dalam Bunuh Diri?

Siaran Pers

Untuk disiarkan segera

 

Lingkar Studi Suicidologi: Bagaimana Peranan Agama Dalam Bunuh Diri?

Digital Innovation Lounge Depok – 29 Juli 2017

 

Jakarta (28/07) – Data dari International Association of Suicide Prevention menunjukkan bahwa setidaknya 800 ribu orang per tahun di seluruh dunia meninggal karena bunuh diri. Ini berarti setiap 40 detik, terdapat 1 nyawa hilang karena bunuh diri. Lebih jauh lagi, dari setiap 1 orang yang bunuh diri, terdapat 25 orang yang melakukan percobaan bunuh diri. Pada tahun 2012 diperkirakan setidaknya ada 9.103 kematian bunuh diri di Indonesia (WHO, 2014). Dengan demikian, terdapat setidaknya 227.625 orang yang pernah mencoba bunuh diri.

Di Indonesia, pemikiran atau tindakan seseorang yang melakukan bunuh diri banyak dihubungkan dengan kurangnya iman atau kedekatan seseorang dengan agama mereka. Melalui diskusi bulanan Lingkar Studi Suicidologi, Steven Cokro, S.Psi dari Into The Light Indonesia akan membahas peran agama dalam pencegahan bunuh diri. Apakah benar agama dapat melindungi seseorang dari bunuh diri? Atau mungkinkah agama justru dapat menjadi bumerang yang mendorong seseorang melakukan tindakan bunuh diri?

Berdasarkan kajian yang dilakukan Into The Light Indonesia, dapat disimpulkan bahwa afiliasi agama tidak berpengaruh terhadap pemikiran bunuh diri seseorang, tetapi dapat melindungi dari tindakan percobaan bunuh diri. Hal ini tergantung pada persepsi individu terhadap agama yang dianutnya. Mereka yang memiliki persepsi positif terhadap agama terbukti memiliki pemikiran bunuh diri yang lebih rendah sehingga dapat terlindungi dari tindakan percobaan bunuh diri. Namun ketika seseorang memiliki hubungan atau persepsi yang buruk terhadap agama maka hal ini justru dapat membuat seseorang melakukan bunuh diri. Ajaran suatu agama atau kepercayaan yang melarang umatnya untuk bunuh diri dapat mejadi faktor pelindung namun juga dapat menjadi bumerang saat seseorang menganggap agama tidak lagi mampu memberikan jalan keluar bagi permasalahan-permasalahan yang dihadapinya.

Dalam diskusi ini Steven juga akan membahas pengaruh budaya terhadap kemampuan agama mencegah tindakan bunuh diri. Kemampuan protektif dari agama akan berbeda-beda tergantung budaya di tempat agama atau kepercayaan itu berada. Jurnal studi tahun 2016 oleh Lawrence Oquendo dan Stanley mengenai kaitan resiko bunuh diri dan agama menyebut ketika seseorang menganut agama atau kepercayaan minoritas mengalami diskriminasi karena agama yang dianutnya, maka ini dapat menjadi faktor resiko kerentanan bunuh diri yang tinggi pada orang tersebut.

 

Tentang Into The Light Indonesia

Into The Light Indonesia adalah komunitas pencegahan bunuh diri yang digerakkan oleh orang muda lintas identitas dengan pendekatan berbasis bukti ilmiah dan hak asasi manusia. Into The Light memberikan pelayanan dalam bentuk edukasi, kampanye, penelitian, dan kerja sama dengan organisasi nasional dan internasional untuk kesehatan jiwa dan pencegahan bunuh diri. Kegiatan yang rutin dilakukan juga mencakup seminar, pelatihan, diskusi, dan kemitraan bersama organisasi kesehatan jiwa.

 

Untuk informasi lebih lanjut, silakan kontak:

Malik Abdul: +62 899-5085-058

Surel: intothelight.email@gmail.com

Facebook: IntoTheLightID

Twitter: @IntoTheLightID

Blog: https://intothelightid.wordpress.com

Into The Light di “Selamat Pagi Indonesia” Metro TV – 24 Juli 2017

Pada Senin, 24 Juli 2017, Benny Prawira, pendiri dari Into The Light diundang oleh redaksi Metro TV dalam program “Selamat Pagi Indonesia”, membahas mengenai kasus bunuh diri di kalangan selebriti, serta bagaimana mengenal dan mencegah tindakan bunuh diri.

Deretan Kasus Bunuh Diri Selebriti

Mengenal dan Mencegah Tindakan Bunuh Diri

Sumber: metrotvnews.com

Menggunakan Media Sosial untuk Mengenang Bunuh Diri

Situs media sosial dapat menjadi pedang bermata dua untuk pemberitaan mengenai bunuh diri. Di satu sisi, sifatnya yang mudah disebar, menjadikan media sosial dapat menjadi cara mengenang untuk orang yang melakukan bunuh diri secara paling mudah dan dapat dibaca lebih banyak orang.

Namun, banyak juga warganet (netizen) yang justru menggunakan media sosial untuk berkomentar secara bebas sehingga munculnya komentar-komentar negatif, apalagi belum banyak warganet yang mengutarakan pendapat secara bertanggungjawab.

Bagaimana cara mengenang duka cita di media sosial yang baik?

Berikan ucapan duka cita yang positif, dan memberikan dukungan moral bagi keluarga, kerabat, dan orang-orang yang merasa ditinggalkan akibat bunuh diri.

Sebaliknya, hindari melaporkan komentar mengenai bunuh diri yang negatif. Jangan ragu untuk menegur dan melaporkan komentar yang tidak sensitif, menyakitkan, atau eksplisit, jika Anda menemuinya. Komentar negatif tidak hanya memperkeruh suasana dan sama sekali tidak bermanfaat, namun juga dapat meningkatkan efek Werther yang berbahaya.

Amati berita-berita yang meliput orang yang bunuh diri. Apabila terdapat hal-hal yang dianggap tidak bijaksana, ada baiknya untuk tidak sembarangan menyebarkan informasi tersebut, serta hubungi lembaga atau pihak yang menulis berita tersebut dan mintalah mereka untuk memperbaikinya. Sebaiknya, carilah artikel/berita yang lebih objektif dan netral.

Apabila kamu berniat menyebarkan berita orang yang bunuh diri, sertakan peringatan dan pesan (atau disebut juga “trigger warning“). Peringatan ini penting untuk mencegah efek Werther. Peringatan dan pesan yang bisa kamu sertakan contohnya seperti ini:

Peringatan: Artikel berikut ini mengandung konten yang dapat memicu orang-orang yang memiliki pemikiran atau keinginan untuk bunuh diri.

Segera hubungi tenaga profesional kesehatan jiwa (psikolog atau psikiater) jika kamu memiliki pemikiran atau keinginan untuk bunuh diri.

Tentunya kamu dapat mengubah pesan dan peringatan tersebut dengan kata-kata kamu sendiri.

Amati pula orang-orang yang menyebarkan informasi mengenai bunuh diri, karena dapat pula menjadi salah satu tanda-tanda orang-orang yang memiliki pemikiran untuk bunuh diri.

Apabila kamu merasa ucapan mereka di media sosial bernada depresif, mengucapkan duka secara berlebihan, atau menunjukkan tanda-tanda lainnya, jangan ragu untuk segera menolong dan menawarkan dukungan kepada mereka. Oleh karena itu, sangat penting untuk menyertakan “trigger warning” saat kamu menyebarkan informasi mengenai bunuh diri.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Rekan Anda Memiliki Kecenderungan Bunuh Diri?

Banyak dari kita yang tentu pernah mengalami hal seperti ini. Terkadang, rekan kita dapat menghubungi kamu secara mendadak dan kapan saja.

Mengingat rekan kita yang sedang menghadapi masalah, tentu kita perlu berhati-hati agar jangan sampai ucapan atau perbuatan kita justru memperburuk keadaan. Nah, saatnya kenali tips dan trik untuk menghadapi rekan yang sudah memiliki tanda-tanda keinginan bunuh diri.

TIDAK DIREKOMENDASIKAN DIREKOMENDASIKAN
Melempar asumsi pribadi Anda mengenai kondisi orang tersebut.

Contoh: “Begitu saja koq mau mati,”, “Kamu pasti kurang ibadah yah”, “Jangan kayak orang kurang piknik gitu deh”, “Ah, kamu caper aja, dari dulu bilang pengen mati tapi gak jadi-jadi”

Tahan semua asumsi Anda di dalam kepala anda sendiri.

Jangan pernah lemparkan asumsi-asumsi seperti itu di saat orang hendak bercerita/curhat kepada Anda.

Biarkan ia berbicara lebih dahulu, dan kita menjadi pendengar yang baik.

Meremehkan bahwa ucapan kematian, tidak ingin dilahirkan, merasa terperangkap, merasa tidak ada masa depan, atau hendak tidur selamanya sebagai ucapan yang main-main. Menanyakan apakah memiliki kecenderungan bunuh diri, sejak kapan dan sudah seberapa detail rencana dan metode yang hendak digunakan.

Semakin lama dan detail pemikiran bunuh diri, akan semakin besar kemungkinan bahaya bahwa ia akan melakukan bunuh diri.

Menantang untuk menggunakan alat/metode berbahaya untuk bunuh diri.

Contoh: “Udah lakuin aja kalau mau mati,”,”Jangan cuma caper, ambil itu (alat) dan lakuin kalau berani”

Mintalah untuk jauhkan diri dari akses bahaya. Menantang untuk bunuh diri justru akan menjadi pemicu bunuh diri.

Contoh: ”(Alat) Ini saya simpan dulu yah”, “Tolong kamu jaga diri kamu dari tempat berbahaya yah”

Meninggalkan orang dengan kecenderungan bunuh diri sendirian. Usahakan Anda atau orang yang dekat jarak secara fisik ataupun akrab secara emosional terhadap orang dengan kecenderungan bunuh diri untuk berada tetap di dekatnya hingga pemikiran tersebut lewat.
Memberikan nasihat, menceramahi orang tersebut dengan penghakiman, atau berdebat mengenai pemikiran bunuh diri.

Contoh: ”Makanya lebih sering ibadah yah”, “Lu tuh punya anak, bego aja mau mati”, “Hidup itu enak koq, ngapain mau mati?”

Dengarkan dulu masalah yang diutarakan rekan Anda dengan baik-baik. Tampung semua emosi negatif yang diekspresikan dengan tenang, tanpa ada reaksi berlebihan.

Berikan pertanyaan dengan terbuka, seperti: ”Sekiranya apakah yang membuatmu bertahan sejauh ini?”, “Apakah kamu memiliki tujuan untuk hari esok?” atau “Apa cita-cita jangka panjangmu yang hendak kamu raih?”

Berusaha mengatasi semuanya sendirian dan menyimpan semua rahasia tentang keinginan bunuh dirinya untuk Anda saja. Diperlukan kerjasama dengan pihak keluarga dan orang terdekat dari orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri.

Penyampaian ke orang terdekat lainnya harus dengan hati-hati agar tidak mengagetkan mereka, rahasia mengenai perilaku bunuh diri dapat disampaikan dalam kondisi krisis.

Semua proses pemulihan dari pemikiran bunuh diri hanya dapat dimungkinkan dengan psikoterapi dan obat-obat psikofarmaka jika dibutuhkan, yakinkan dan berikan rujukan ke profesional terdekat.

Menyalahkan diri sendiri ketika terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Menyadari bahwa perilaku manusia sangat dinamis dan sulit diperkirakan, terutama jika Anda bukan ahli dalam bidang ini.

Menerima keterbatasan ini membantu Anda untuk melakukan yang terbaik namun juga bersiap untuk menerima apapun yang terjadi.